Artikel

Bukan Salahmu Nak

12 Juni 2017, pukul 06:06:06 WIB, Oleh: admin

@amalah.ch


Matanya mulai memerah, air mata mulai antri turun membasahi pipinya. Mata kantuk tetap ditahannya, berusaha memahami materi ajar sambil menahan pedih di hatinya.

Hanya karena lisan orang tuanya. Kasusnya mirip dengan pembunuhan karakter anak, lebih tepatnya mental seorang anak yang masih di bawah umur. Sekecil sudah mendapatkan perlakuan yang kurang baik. Entah bagaimana? Anak yang memang salah atau justru orang tua yang dzalim? Makin penasan nih. Sambil meleleh air mata nih, ngetik kalimat ini :'(

Mari kita telaah satu per satu. Yuk!

Anak sekecil itu, masih duduk dibangku SD kelas 4.
Belum genap usianya 10 tahun, sebut saja namanya Awan. Suatu malam bersama tumpukan kertas tugasnya datang ke rumahku untuk minta diajarin. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 wib, waktu yang tidak cocok lagi untuk belajar. Apalagi setelah tarawih pasti lelah. Setelah berlalu 5 menit pembelajaran berlalu, namun kulihat nampaknya anak ini kurang motivasi. Kulihat wajahnya sedih, kurang fokus, dan seperti terpojok.

Tak lama kemudian, hadirlah sang Bunda ke rumahku ingin memantau perkembangan anaknya. Sambil mengomel tentang anaknya yang sulit disuru belajar, maunya main gadget, nonton tivi, dan bermain kesana kemari gak jelas. Akhirnya seperti ini, belajar ngebut. Dua mapel sekaligus dalam satu malam. Dengan kondisi yang ala kadarnya. Jelas banget nih. Sebagai seorang guru, kondisi anak seperti ini kurang maksimal untuk pembelajaran.

Maka semakin jelas, alasan kedatangan anak ini ke rumahku di malam hari.
Tiada biasanya belajar denganku, biasanya belajar dengan bundanya sendiri. aku sedari awal sudah ngerasa aneh.

Hmmmm... Ternyata sesuai dugaanku. Ada yang tidak beres dengan anak ini. Semakin mengucur deras air matanya, bundanya akhirnya pergi pulang duluan. Tinggal aku dan Awan di ruang tamuku. Kudekati anak ini dengan baik, bukan maksud untuk menceramahi apalagi taujih. Eheheheh... Itu mah sama ajah.

Back to topic!
Jadi pada intinya kusarankan untuk Awan pulang ke rumah. Hapus air matanya, segera bertobat. Tidak sepenuhnya ortunya salah. Awan harus tahu bahwa kewajibannya selama liburan adalah belajar secara istiqomah walaupun sedikit demi sedikit, bukan bermain seterusnya. Akhirnya kisah sedih seperti ini tidak dapat dihindarkan, Bunda sedih, Awan juga sedih. Iya, semua sedih termasuk aku :(

Awan bangkit dari duduknya, lansung pamit pulang. Sesuai perintahku, besok dia janji akan hadir lagi untuk belajar sehabis sholat subuh. Semoga dia tepat janji. Aamiin

Tak lama kemudian, bundanya datang lagi ke rumahku. Tentu saja bertanya tentang anaknya.
Kuberikan penjelasan bahwa tiada sepatutnya memarahi anak, apalagi sampai berteriak. Saya tahu betul bagaimana perasaan seorang anak, demi Allah yang telah menitipkan mereka pada Bunda tersebut. Tiada sepatutnya hal itu dilakukan. Berbagai teori tentang psikologi anak menunjukkan bahwa kekerasan pada anak, baik verbal maupun fisik tidak sepatutnya dilakukan.

Perkembangan otak anak adalah korbannya. Memori otak anak kecil lebih mampu merekam dengan baik informasi yang masuk, baik informasi yang baik maupun yang buruk. Walaupun niat ortunya baik. Misalnya, membentak anak agar sadar bahwa tindakan yang dilakukan si anak salah.

Ishhhhhh... Tiada bermoral banget. Sebagai seorang guru insan kamil sidoarjo, kami terbiasa untuk mengajar dengan hati. Kebetulan anak ini, bisa dibilang tetanggaku. Bersekolah di suatu sekolah swasta yang cukup baik juga. Namun kembali pada siswanya lagi. Sebaik apapun sekolahnya, jika anaknya kurang optimal menyerap ilmu, maka hasilnya juga sekedarnya.

Kembali ke topik utama!
Visi dan misi sekolah kami, mendidik dengan hati dan keteladanan. Ya Allah, semoga semakin sedikit orang tua yang dzalim pada anaknya. Semoga semakin sadar bahwa anak adalah titipan Allah. Sayangilah mereka sebagaimana selagi masih kecil. Bukankah DOA anak untuk orang tua berbunyi: ya Allah sayangilah orangtuaku sebagaimana mereka menyanyangiku sewaktu kecil"

Nahhh..loh! Sewaktu kecil dihujat, diomelin, diteriakin, dicubitin, apalagi dipukulin. Naudzubillah...

Jangan hanya menganggap anak durhaka terhadap orang tua. Namun sebaliknya, ortu juga bisa durhaka terhadap anak-anaknya. Orang tua yang suka membentak anaknya, padahal dengan itu masalah tidak selesai begitu saja, justru mental anak semakin hancur hatinya. Jika sudah seperti itu, dapat dipastikan motivasi belajarnya akan turun.

Bukankah Rasullullah telah jelas menjelaskan materi parenting. Mendidik anak seusia 10 tahun sudah harus tegas, apalagi tentang Ibadah. Jika mereka tidak segera bergerak, saat adzan telah berkumandang. Maka ortu boleh memukul anaknya dengan pukulan yang tidak menyakitkan, dan tidak memukul di wajahnya. Artinya, orang tua boleh bertindak tegas terhadap anaknya. Namun sekali lagi, bukan dengan kekerasan yang mudhorot.

Jika ada orang tua yang membela pendapat, bahwa anaknya bandel. Maka wajar harus diberi titik jera. Saat disuru belajar gak mau. Mainan tiada henti. Kalaupun mau, belajarnya sendirian bentar banget. Tetep saja, orang tua harus memiliki ketegasan terhadap anak, apalagi diera modern. Kehidupan anak tidak bisa dijauhkan dari teknologi bernama gadget. Jauhkan anak-anak dari benda itu. Kalaupun diijinkan main gadget, sebaiknya ada perjanjian. Misalnya hanya diijinkan main gadget saat hari libur saja, itupun hanya satu jam. Selebihnya ijinkan ananda untuk bermain dengan temannya dikehidupan nyata. Didik anak untuk tahu waktu. Kapan bermain? Kapan belajar? Kapan harus mandi dan beribadah?

Ajarkan anak untuk istiqomah tepat waktu. Terkadang saat di sekolah anak terbiasa sholat on time, namun di rumah kurangnya ketegasan dari orang tua, akhirnya anak jadi korbannya. Terkadang half sepele, namun jika diteruskan bisa menjadi kebiasaan. Kebisaan yang dibiasalan akan membentuk watak seorang anak dàn akhirnya terbentuklah karakter anak tersebut.

Apa yang dibiasakan pada anak, itulah yang akan dipanen orang tua. Misalnya: saat di rumah, ortu merasa kasihan jika si anak terbangun saat subuh berkumandang, dengan alasan masih kecil. Tiada masalah, nanti saja kalau sudah kelas 3 dibiasakan bangun subuh. Akhirnya setelah kelas 3 ananda akan terbiasa untuk bangun terlambat. Padahal kelas 3, seharusnya Ananda sudah bisa bangun secara mandiri tanpa perlu di bangunkan orang tuanya. Wallahuallam.

Oh Allah , sebagai orang tua sudah sepatutnya untuk mendampingi buah hatinya belajar di rumah. Jadikan amalan Ibadah, jangan melulu sibuk dengan dunia sosialita atau karir. Berarti Bunda gak boleh kerja nih?

Masya Allah bukan begituuuu. Maksud saya, berusahalah menghadapi anak dengan kondisi hati yang lapang. Kekerasan bukan solusi utama. Ayah atau Bunda bisa mencoba tips yang dipaparkan oleh ustadz Miftahul Jinan dalam bukunya " Alhamdulillah anakku nakal".

Jika benar orang tua menganggap anaknya nakal, Maka perlu dipertanyakan lagi. Beneran anaknya yang nakal atau orang tuanya yang tidak sabar. Ortu seharusnya menyadari bahwa kesabaran dan ketidaksabaran dalam menyikapi anak, berdampak pada tinggi atau rendahnya kenakalannya.

Siklus anak nakal itu bisa diputus. Artinya, anak yang sudah terlanjur nakal bisa diperbaiki lagi, agar kembali sesuai fitrahnya.
Sebagaimana hadist berikut: ridho Allah tergantung pada ridho ortu, dan sebaliknya murka Allah tergantung pada murka orang tua".
Maka dapat disimpulkan bahwa anak nakal ataupun anak baik itu tergantung dari ridho orang tuanya.

Perhatikan siklus anak berikut:

Siklus anak baik: anak baik-~> ortunya ridho ~> Allah ridho ~> keluarga berkah ~> bahagia ~~> anak makin baik.

Siklus anak nakal: anak nakal~> ortunya murka ~> Allah murka ~> keluarga tidak bahagia ~> anak makin nakal.

Sekali lagi, kuncinya adalah bukan pada anak, tapi melalui orang tua.
????????????
Siklus anak nakal jadi anak baik: anak nakal~> ortunya ridho ~> Allah ridho ~> keluarga berkah ~> bahagia ~~> anak makin baik

Bila kalian memaafkannya, menemuinya dan melupakan kesalahannya, Maka ketahuilah Allah maha pengampun lagi maha penyanyang
(QS. At Tagabun: 14)

Terakhir, jika masih ada orang tua yang keras terhadap anaknya. Semoga lekas tersadar. Orang tua harus ridho walaupun anaknya nakal. Tentu saja dengan cara memaafkan, dan mengajak anak berdialog, merangkulnya dengan sepenuh hati, dan terakhir melupakan kesalahannya.

Semoga dengan membaca artikel ini, ortu semakin mudah untuk meridhoi ananda dan selalu mendoakannya setulus hati. Aamiin ya rabbal alaamiin.
.
.
.
.
#nulisrandom2017
#edisi6juni
#inka2017



© 2016 LPIT Insan Kamil Sidoarjo Alamat: Jl. Pecantingan RT 12/ RW 4 Sekardangan Sidoarjo, Kode Pos: 61215

Telp LPIT : (031) 8956418 Telp KB/RA IT : (031) 8956434 Telp SDIT : (031) 8056949 Telp SMPIT : (031) 8076237 Fax : (031) 8956418