Artikel

SEKOLAH SEBAGAI PELOPOR GERAKAN LITERASI

02 Januari 2015, pukul 14:20:08 WIB, Oleh: admin

Menjadikan sekolah sebagai pelopor gerakan literasi merupakan pilihan yang tepat. Sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu menampung aspirasi dan ide-ide kreatif siswa, guru serta seluruh komponen di dalamnya. Apalagi jika hal tersebut disinergikan dengan proses belajar-mengajar, akan membuat proses tersebut menjadi lebih hidup dan bermakna. Idealnya, sebuah sekolah merencanakan program-program sekolah yang menunjang kemampuan dan bakat seluruh warga di dalamnya. Dalam hal ini baik guru dan murid wajib membudayakan literasi. Caranya, sekolah mewajibkan budaya membaca dan menulis bagi para guru dan siswa. Seorang guru paling tidak dapat menerbitkan sebuah buku, entah dalam hitungan per tahun atau bulan. Mereka wajib membuatnya. Guru sebagai teladan bagi muridnya. Jika hal tersebut sudah terealisasi, takkan sulit untuk membuat siswa mengikuti jejak gurunya. Dengan realitas seperti itu membuktikan sekolah menyadari peran, tantangan, dan peluang di masa depan. Sekolah berperan besar untuk melahirkan para penerus bangsa. Keterampilan dalam menulis dan kegiatan membaca sangat menunjang kemampuan mereka untuk menjawab tantangan dan menciptakan peluang di masa depan. Lebih teknis, guru dapat membukukan dan membuat catatan tentang kegiatan pembelajaran di kelas. Guru juga dapat membuat proyek untuk dirinya sendiri, khususnya literasi. Literasi ini bisa dimulai dengan membuat catatan harian tentang anak didiknya. Hal tersebut juga akan memudahkan guru memberikan penilaian dan mengetahui perkembangan anak dari waktu ke waktu. Alangkah bangga dan bahagianya orang tua ketika mereka dapat mengetahui perkembangan anaknya di sekolah. Hal tersebut juga membuktikan bahwa seorang guru bukan hanya sebagai pengajar tetapi menggantikan peran orang tua di sekolah. Tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan guru, siswa dihimbau untuk membudayakan literasi. Membaca menjadi hal yang penting dalam hal ini. Setidaknya ada program khusus untuk mewujudkannya, seperti membaca buku setiap hari. Realisasinya dilakukan bertahap. Siswa bisa membaca 1 lembar 1 hari atau memberikan kesempatan di pagi hari untuk membaca buku pribadinya selama lebih kurang 10-15 menit. Hal tersebut efektif sebagai bagian dari gerakan literasi sekolah. Selebihnya, hal tersebut harus didukung berbagai pihak. Melibatkan dinas pendidikan setempat, ketua lembaga pendidikan, kepala sekolah, dan semua penyelenggara pendidikan menjadi sesuatu kewajiban. Apalagi ini untuk kemajuan dunia pendidikan. Sebagai contoh, kita bisa melihat peran serta pemerintah kota Surabaya yang mendukung penuh gerakan literasi dan hal ini dimulai di sekolah-sekolah, baik sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Itu dibuktikan Pemkot Surabaya dimana Walikota Tri Rismaharini mengikrarkan gerakan literasi saat perayaan hari pendidikan nasional tahun 2014 kemarin. Pemerintah sadar jika gerakan literasi memiliki andil besar memajukan bangsa dan negaranya. Hal tersebut terlihat di negara-negara maju, seperti Jepang, Finlandia, dan Inggris. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak melaksanakan gerakan literasi. Sekolah menjadi pelopor gerakan tersebut.


© 2016 LPIT Insan Kamil Sidoarjo Alamat: Jl. Pecantingan RT 12/ RW 4 Sekardangan Sidoarjo, Kode Pos: 61215

Telp LPIT : (031) 8956418 Telp KB/RA IT : (031) 8956434 Telp SDIT : (031) 8056949 Telp SMPIT : (031) 8076237 Fax : (031) 8956418