ALLOHU AKBAR… MERDEKA..!!!

Oleh :

Aisyah Zahrani Muntholib

SDIT Insan Kamil Kelas 4D

Gelegar suara takbir Bung Tomo membuat saya dan adik-adik terpana menyaksikan film perjuangan itu. Betapa mengerikannya saat itu. Masa yang sudah diproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, ternyata di daerah-daerah masih berjuang tanpa alas kaki dan tanpa senjata. Masih ada bendera Merah-Putih-Biru berkibar di atas Hotel Yamato Surabaya, hingga Arek-Arek Suroboyo nekat memanjat tiang bendera di atas gedung dan berbondong-bondong menurunkan bendera itu. Sesudah diturunkan, maka kain berwarna biru pada bendera itu dirobek dan tinggallah kain bendera warna Merah-Putih yang hanya berkibar di negeri ini.

Pada tanggal 10 November 1945 yang sekarang diperingati sebagai hari pahlawan, suara bom dan dentuman peluru tidak memadamkan semangat rakyat Indonesia untuk meraih kemerdekaan yang seutuhnya. Arek-arek Suroboyo yang hanya memegang bambu runcing itu berkali-kali meneriakkan takbir “Allohu Akbar.. Allohu Akbar.. Allohu Akbar”. Mereka yakin dan percaya bahwa hanya Allah lah yang dapat menolong dan memenangkan negara ini. Mereka tidak takut terkena tembakan ataupun bom. Mereka tidak takut darah mengalir dari tubuh mereka. Bahkan mereka tidak takut kalau sewaktu-sewaktu jantung mereka berhenti berdetak dan mereka harus kehilangan nyawanya.

Sebagai seorang Muslim, saya mengambil pelajaran yang sangat berharga dari film perjuangan tersebut. Zaman dulu, mereka dengan segala keterbatasan – tanpa listrik, tanpa baju bagus, tanpa sepatu –, tapi sangat percaya dan meyakini kekuasaan Allah swt. Sekarang semua fasilitas penerangan dan internet sangat mudah dinikmati, kenapa malah banyak anak Muslim yang terpengaruh dengan game online..?. Di perkotaan, anak-anak disibukkan dengan hp dan mall. Di pelosok negeri, anak-anak masih banyak yang harus menyeberang sungai untuk dapat bersekolah. Di daerah lain, bahkan masih banyak anak-anak yang menjadi pecandu rokok pada usianya yang masih kecil. Duuhh.. negeriku. Potretmu masih kacau balau dan menyesakkan dada. Betapa banyak kesenjangan yang masih terjadi di negeri ini.

Astaghfirullahal ‘adziim..

Saya merasa malu pada Temon, seorang anak kecil dalam sebuah film perjuangan yang tanpa busana dan tanpa alas kaki berani menyusup cerdas ke markas penjajah. Saya bersyukur bisa menikmati pendidikan Islam dengan sangat baik. Dan saya merasa kasihan dengan banyaknya anak yang masih nongkrong di warkop main hp atau keluyuran berkata kotor tidak sopan. Banyak anak Muslim yang belum faham akan kondisi negeri ini. Banyak anak Muslim yang belum menikmati pendidikan yang sesungguhnya. Bahkan masih banyak terjadi kasus pelecehan terhadap anak kecil.

Sebagai generasi yang mencintai bangsa ini, kita harus rajin belajar dan berprestasi untuk Indonesia. Indonesia akan semakin berkembang dan maju jika kita semua kompak berikhtiar dan berdo’a yang terbaik untuk Indonesia. Segala anugerah Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) harus dilestarikan dengan sebaik-baiknya. Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah sehingga membuat bangsa lain iri dan ingin menguasai negeri ini. Tapi kita masih belum dapat memanfaatkan kekayaan alam itu dengan baik. Masih banyak kekayaan kita yang dirampas dan dinikmati oleh negara lain. Maka mari memberi yang terbaik untuk bangsa ini. Jangan lupa untuk terus menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Yang Maha Esa

Pada lomba HUT RI, ada lomba tradisional “Balap Karung”. Lomba itu mengajarkan kita untuk terus berjuang meraih kemenangan. Kalau kita jatuh, maka kita harus bangkit dan terus maju berjuang. Yakinlah bahwa Allah selalu bersama kita. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin..

Sidoarjo, 19 Agustus 2020

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

LEAVE REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked *