FILOSOFI LOMBA 17 AGUSTUS

Oleh :

Raisah Dhamiratuz Zakia

Kelas 6C SDIT INSAN KAMIL

Assalamu’alaikum. Wr.Wb.

Merdeka! Bulan Agustus tepatnya pada tanggal 17, Bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Setiap Bulan Agustus, masyarakat di seluruh pelosok tanah air beramai-ramai merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia dengan mengadakan berbagai jenis perlombaan. Kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan jenis-jenis perlombaan untuk memperingati Hari Kemerdekaaan Indonesia atau yang dikenal di masyarakat dengan sebutan lomba 17 Agustus. Lomba 17 Agustus biasanya diadakan di sekolah, lembaga pemerintah, maupun di kampung-kampung, termasuk juga di lingkungan perumahan. Jenis-jenis lomba yang biasanya diadakan diantaranya: lomba panjat pinang, lomba balap karung, lomba makan kerupuk, lomba bakiak, lomba tarik tambang, lomba balap kelereng, lomba enggrang, dan lomba kebersihan lingkungan.

Meskipun jenis lomba 17 Agustus yang diadakan hampir sama setiap tahunnya, namun banyak orang yang belum tahu makna dan filosofi di balik lomba-lomba tersebut. Nah, kali ini kita akan mencari tahu makna dan filosofi beberapa jenis lomba di atas. Pertama, lomba panjat pinang. Perlombaan ini diikuti oleh sekelompok orang untuk mendapatkan hadiah yang digantung di atas puncak pohon. Untuk sampai ke puncak dan menjadi pemenang tidaklah mudah. Karena pohon yang dipanjat sudah diolesi oli atau minyak. Sehingga peserta harus mengatur strategi untuk sampai ke puncak terlebih dahulu. Lomba panjat pinang ini, memberikan pelajaran kepada kita tentang pentingnya bekerja sama dan tidak mudah putus asa untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Perlombaan yang kedua adalah lomba balap karung. Lomba ini bisa diikuti oleh anak-anak maupun orang dewasa. Lomba ini memanfaatkan karung goni. Makna dan filosofi yang terkandung dalam lomba balap karung sangat dalam, yakni untuk mengingat kembali masa-masa kelam pada masa penjajahan Jepang. Pada saat itu, Rakyat Indonesia harus menjalani kerja paksa atau romusha dan terpaksa harus menggunakan karung goni sebagai pakaian untuk mereka pakai. Karung goni yang dijadikan pakaian, sangat tidak nyaman untuk digunakan, karena karung goni biasanya digunakan untuk membungkus beras. Oleh karena itu, lomba balap karung dilakukan dengan cara menginjak dan melompat-lompat dengan memakai karung goni menyimbolkan kekesalan Rakyat Indonesia akan masa kelam dahulu ketika dijajah Jepang, dan tidak ingin mengalami hal seperti itu lagi.

Tidak hanya lomba balap karung saja yang menggambarkan masa kelam Rakyat Indonesia pada zaman penjajahan. Lomba makan kerupuk pun juga menunjukkan gambaran yang serupa. Pasalnya, lomba makan kerupuk memiliki makna dan cerita yang menyedihkan dibaliknya. Di masa penjajahan dahulu, Rakyat Indonesia mengalami kesulitan untuk mendapatkan makanan. Maka dari itu, lahirlah lomba makan kerupuk yang dilakukan dengan cara, mengikat kerupuk pada sebuah tali dan memakannya tanpa menggunakan bantuan tangan. Lomba makan kerupuk mengajarkan kita untuk lebih menghargai bahan pangan.

Selain lomba makan kerupuk, ada juga lomba bakiak. Lomba bakiak biasanya dilakukan secara berkelompok. Satu kelompok bisa diikuti 3-4 orang. Cara bermainnya adalah berjalan atau berlari menggunakan bakiak tersebut menuju garis finish; yang tiba terlebih dahulu dialah pemenangnya. Memang sekilas terlihat mudah, namun jika salah lagkah sedikit saja, bisa terjatuh. Filosofi dalam lomba ini adalah bahwa dalam satu kelompok, kita harus bisa menyatukan visi, misi, langkah, saling bekerja sama, serta maju bersama untuk merebut suatu kemenangan (menggapai cita-cita yang diinginkan).

Jenis lomba selanjutnya adalah lomba memasukkan paku ke dalam botol. Lomba ini dilakukan dengan cara mengikat paku dengan tali yang digantungkan di belakang badan peserta lomba. Peserta yang memasukkan paku ke dalam botol paling cepat, dialah pemenangnya. Filosofi lomba memasukkan paku ke dalam botol adalah bahwa untuk meraih prestasi, selain membutuhkan konsentrasi secara penuh, juga diperlukan keterpaduan antara potensi diri dengan ketrampilan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang yang ada.

Jenis lomba berikutnya adalah lomba tarik tambang. Pada saat lomba tarik tambang, yang diperlukan bukan hanya kekuatan, namun juga kerjasama team yang solid. Lomba ini biasanya dimainkan oleh orang dewasa maupun anak-anak. Filosofi lomba tarik tambang adalah bahwa kita harus bekerja sama, bergotong royong, dan solider dengan sesama untuk melawan musuh.

Jenis lomba lain yang tidak kalah menarik adalah lomba balap kelereng. Lomba ini sangat diminati oleh anak-anak dan ibu-ibu. Lomba ini dilakukan dengan cara setiap peserta harus menggigit sendok yang telah disediakan. Kemudian sendok tersebut ditumpangi kelereng. Peserta harus adu kecepatan untuk mencapai garis finish. Pemenang dari perlombaan ini adalah peserta yang paling cepat sampai finish dan kelereng tidak jatuh. Jika kelereng jatuh, maka peserta yang bersangkutan harus mengulang dari awal. Filosofi yang dapat diambil dari permainan ini adalah bahwa setiap orang harus bertindak cepat dan hati-hati dalam melakukan suatu hal. Tindakan yang tidak tepat akan menyebabkan timbulnya kerugian pada diri sendiri maupun orang lain.

Lomba enggrang merupakan jenis lomba lain yang sangat digemari bapak-bapak dan para pemuda. Permainan ini membutuhkan keseimbangan, keterampilan, dan keberanian. Jika peserta ragu-ragu dalam melangkah, maka bisa terjatuh. Filosofi dari permainan ini adalah bahwa untuk mencapai tujuan yang diinginkan diperlukan kerja keras, keuletan, dan sportivitas. Nilai kerja keras dapat dilihat dari semangat para pemain yang berusaha untuk mengalahkan lawan dengan mengatur keseimbangan dan konsentrasi. Nilai keuletan dapat dilihat dari proses pembuatan alat. Karena ketika membuat enggrang, harus memperhatikan kesimbangan, agar enggrang mudah untuk digunakan berjalan. Dan nilai sportivitas dapat dilihat saat kompetisi mengakui kemenangan peserta lain, ketika peserta tersebut mencapai garis finis lebih awal.

Yang terakhir adalah lomba kebersihan lingkungan. Lomba ini biasanya digelar antara satu wilayah dengan wilayah lain. Misalnya: antar RT dalam satu RW atau antar RW dalam satu kelurahan/desa. Filosofi dan makna lomba kebersihan lingkungan ini adalah untuk membangun kerjasama antar warga di wilayah masih-masing agar secara bersana-sama menjaga kebesihan dan kesehatan lingkunganya. Dengan kondisi lingkungan yang sehat dan bersih warga akan terhindar dari berbagai penyakit serta akan menjadi lebih nyaman untuk hunian. Terlebih dengan kondisi wabah pandemi Covid 19 saat ini, pesan yang terkandung dalam lomba kebersihan lingkungan ini sangat bermakna. Dengan adanya wabah pandemi Covid 19 ini, setiap orang harus lebih meningkatkan kebersihan diri sendiri dan lingkunngannya. Misalnya keluar masuk rumah harus cuci tangan, jika keluar rumah harus memakai masker, lingkungan secara periodik perlu disemprot disinfectan dan sebagainya.

Berbagai jenis lomba tradisonal tersebut setiap tahun selalu dilakukan menjelang tanggal 17 Agustus maupun setelah tanggal 17 Agustus. Namun sayangnya, pada tahun ini kita tidak bisa melakukan lomba-lomba tradisional tersebut secara langsung dan bersama-sama. Karena saat ini sedang terjadi wabah pandemi covid-19 yang melanda di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sehingga tidak memungkinkan melaksanakan lomba-lomba tradisonal tersebut di atas. Karena, jika dilaksanakan akan menimbulkan terjadinya kerumunan orang, yang dapat menyebabkan terjadinya penularan virus Covid 19. Sebagai gantinya, diadakan lomba-lomba yang dilakukan secara virtual. Misalnya: lomba cerdas cermat online, lomba menghias masker, lomba membuat video edukasi kemerdekaan yang diunggah di media sosial, dan masih banyak lagi ide-ide untuk mengadakan lomba secara virtual. Nah, mari kita simak makna beberapa jenis lomba yang dilakukan secara virtual (online).

Jenis lomba pertama yang kita bahas adalah lomba cerdas cermat online. Biasanya, lomba cerdas cermat dilakukan secara berkelompok. Namun, karena dilakukan secara online, maka dilakukan individu (perorangan). Materi yang dilombakan antara lain: matematika, pengetahuan umum, sejarah kemerdekaan, dan ilmu pengetahuan alam. Panitia/penyelenggara membagikan soal/pertanyaan secara online; demikian juga peserta juga menjawab secara online. Manfaat dari lomba cerdas cermat adalah untuk mengasah pikiran/kecerdasan dan juga untuk meningkatkan pengetahuan peserta lomba

Jenis lomba yang kedua adalah lomba menghias masker. Dengan adanya pandemi Covid 19, masker merupakan salah satu perlengkapan keamanan kesehatan yang harus dipakai pada saat keluar rumah, sehingga hampir setiap orang memilikinya. Tak jarang kita menemui dan melihat orang mengenakan masker dengan model yang unik dan menarik. Nah, dengan kondisi seperti sekarang ini, menghias masker dapat dijadikan salah satu kegiatan perlombaan 17 Agustus. Lomba menghias masker bisa diikuti berbagai usia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Peralatan yang digunakan juga relatif murah dan mudah, diantaranya kuas, cat, stiker, atau pewarna kain. Manfaat lomba menghias masker adalah untuk mengasah kreativitas peserta lomba.

Jenis lomba selanjutnya, yang tidak kalah seru dengan jenis lomba lainnya, adalah lomba membuat video edukasi kemerdekaan. Lomba ini bisa dilakukan dengan cara membuat video sekreative mungkin dan memposting di media sosial. Manfaat dari lomba ini adalah untuk meningkatkan daya imaginasi dan olah pikir serta kreativitas peserta lomba. Dengan memposting ke media sosial, ide-ide kreative peserta lomba terpublikasi dan ketahui masyarakat luas.

Itulah filosofi dan makna yang bisa kita petik dari berbagai jenis lomba tradisional dan virtual yang masih bertahan sampai sekarang dan Insya Allah akan terus diadakan pada tahun-tahun yang akan datang.
Demikian esai tentang filosofi dan makna Lomba 17 Agustus yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat.Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

LEAVE REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked *