Iman dan Perjuangan

“Selama banteng-banteng Indoesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih, maka selama itu, tidak akan kita mau menyerah pada siapapun juga… Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!”.

(Bung Tomo, Surabaya, 9 November 1945) dikutip dari majalah tempo “Soerabadja di tahun 1945”)

Orasinya di radio pemberontakan menjadi buah bibir di seluruh Indonesia. Pemerintah Belanda takut akan semangat bangsa Indonesia yang makin menggelora karena orasi Bung Tomo. Mereka menyuruh Bung Tomo menghentikan siaran radio yang diputar rutin setiap pagi itu. Namun, Subhanallah, BPRI (Barisan Pemberontakan Republik Indonesia) tidak mengurungkan niat mereka untuk berorasi. Mereka pindah ke Bangil. Bung Tommo di minta berorasi kembali di Bangil. Karena letak Bangil tak bisa di bilang dekat dari rumahnya, Bung Tomo hanya berorasi 2 kali seminggu.

Bukan hanya bung Tomo, banyak sekali tokoh revolusioner yang tak luput dari aktivitas religius. Bahkan beberapa pahlawan revolusiner tanah air banyak sekali yang berasal dari kalangan pesantren. Seperti Pak Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah, Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman dan masih banyak lagi sosok Pahlawan Kemerdekaan yang dikenal dengan keimanan dan kesolihan mereka.

Maka tidak salah apabila kita menyimpulkan bahwa keimanan pada Allah yang mendasari perjuangan akan menghantarkan pada kemenangan, sebagaimana terkutip dalam pembukaan UUD 1945. “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Mungkin inilah alasan Indonesia merdeka. Mungkin ini alasan kenapa pemberontakan 10 November di Soerabadja berakhir dengan aksi heroic yang akan selalu dikenang. Alasan kenapa metode perang gerilya membuahkan hasil yang patut disyukuri. Karena iman. Karena iman yang kuat, Indonesia bisa merdeka dari jaman kolonialisme dan penjajahan.

Allah memberi bantuan pada hambanya yang taat, hambanya yang imannya lurus. Seperti halnya Allah membantu Rasulullah beserta kaum anshar dan muhajirin di perang Badar, ataupun perang lainnya. Yang penting niatnya satu, untuk Allah, niscaya, semua akan berjalan mulus dan tidak mengecewakan. Para pahlawan yang membuat metode gerilya begitu luar biasa merencanakannya. Sama halnya dengan para suhada’ di jaman rasulullah, mereka memperhitungkan metode perang secara terperinci. Contohnya perang uhud. Asalkan para pemanah tidak tergiur harta rampasan, kaum muslimin pasti berjaya di perang itu. Hal ini menekankan pada kita, kaum muslim, bahwa niat dan tawakkal adalah segalanya. Tanpa niat yang benar, dan tawakkal yang dilakukan dengan niat, kita tak bisa mendapat apa yang kita mau.

LEAVE REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked *