Ilmuwan Islam Bidang Teknologi

Oleh :

Ali Budiarto, S.Pd

TANPA ILMUWAN MUSLIM MAKA TIDAK AKAN ADA

WHATS APP, INSTAGRAM, FACEBOOK BAHKAN KOMPUTER


Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari gawai baik handphone maupun laptop. Saat kita menggunakan gawai banyak sekali aplikasi yang kita gunakan seperti Instagram. Whats App, facebook, google dan lainnya. Setiap waktu kita membutuhkan teknologi yang lebih caggih dan lebih baik dari yang sebelumnya. Semua teknologi yang kita gunakan saat ini adalah pengembangan dari penemuan besar oleh seorang ilmuwan muslim. Apakah kalian tahu penemu dari facebook?.

Penemu facebook adalah Mark Zuckerberg, Pria kelahiran New York ini pernah memberikan cuitan yang menjadikan dirinya sukses. Mark berkata “Saya heran ada orang-orang yang terlalu mengidolakan saya. Padahal saya sangat mengidolakan ilmuan muslim Al-Khawarizmi. Karena tanpa ada algoritma dan aljabar, maka jangan pernah bermimpi ada Facebook, Whatsapp bahkan komputer. Kalian seharusnya bangga menjadi seorang muslim,” Dalam cuitan Mark Zukerberg tersebut ada seorang ilmuwan muslim yang berjasa besar dalam lahirnya teknologi sekarang ini. Dia adalah Al-Khawarizmi, lalu siapakah Al-Khawarizmi?.Nama lengkapnya adalah Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi, dilahirkan di Uzbekistan(194 H/780 M) dan wafat di Baghdad (266 H/850 M). Dia adalah perintis dalam ilmu matematika.Al-Khawarizmi adalah pelopor dalam penggunaan angka nol dalam matematika yang dikenal dengan nama algoritma. Ia menulis buku babon tentang matematika, yaitu “al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabar wa al-Muqabalah (Kompendium tentang Hitung Aljabar dan Persamaan, tahun 825 M). Eropa baru mengenalnya pada tahun 1140 M atas jasa Robert Chester yang menerjemahkan kedalama bahasa Latin dengan judul ”Liber Algebras et Almucabola”. Sampai saat ini, metode Al-Khawarizmi masih tetap digunakan, yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan Algorism (urutan logis pengambilan putusan untuk pemecah masalah)

Mengapa Algoritma menjadi penting? Ini karena angka-angka Romawi, yang digunakan oleh bangsa-bangsa Eropa waktu itu tidak punya angka nol, jadi tidak bisa dipakai untuk angka-angka persepuluhan atau angka-angka di belakang koma. Angka Romawi juga tidak mungkin dilakukan penjumlahan dari atas ke bawah, dan hanya bisa dilakukan dengan cara Algoritma. Selain itu, Al-Khawarizmi juga yang mengenalkan konsep Trigonometri yang terdiri dari sinus (sin), cosinus (cos), tangens ( tan), cotangens (cot), secan (sec) dan cosecan (cosec). Trigonometri adalah nilai perbandingan yang didefinisikan pada koordinat segitiga siku-siku. Dia juga menemukan rumus untuk memecahkan persamaan kuadrat. Dengan temuan Algoritma kita bisa mengenal komputer, ATM, medsos bahkan sampai games yang ada di HP pintar yang jamak dipakai oleh para penggunanya. Hanya dengan Algoritma semuanya terpecahkan. Peradaban Romawi Kuno, peradaban Jepang, Tiongkok, Korea, bahkan India tidak mengenal asas Algoritma itu. Maka, sesungguhnya, dunia berhutang budi pada peradabaan Islam. Tanpa Algoritma tidak terbayang bagaimana kita akan menghitung uang yang trilyunan, misalnya. Juga, bagaimana kita bisa menyelesaikan soal-soal deret hitung dan deret ukur, dan seterusnya. Pengakuan Mark Zuckerberg terhadap Al-Khawarizmi merupakan penghargaan terhadap ilmuwan Muslim yang satu ini. Tinggal kita, umat Islam, bagaimana mampu menggali nilai-nilai yang ada, untuk kemajuan kemanusiaan yang lebih baik dan lebih bermanfaat lagi.

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

LEAVE REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked *