Menghargai sebuah Proses

Menghargai Sebuah Proses

Oleh :

Ani Qotul Uhbah, S.Pd

Terkadang kita sebagai orang tua, jujur atau tidak masih berfokus dengan hasil yang dicapai oleh anak-anak kita. Dan bahkan kita, sebagai guru juga masih berfokus pada hasil nilai akhir yang dicapai oleh anak-anak didik kita. Sering kita membanding-bandingkan si A dan si B, anak sendiri dan anak teman atau anak tetangga. Apakah bijak sikap seperti ini? Tentunya tidak, jika kita sebagai orang tua dan sebagai seorang guru faham dengan potensi dasar yang dimiliki oleh anak-anak kita.

Kita lupa bahwa setiap anak dilahirkan ke dunia dengan segudang potensi dan berbagai keunikan. Allah SWT telah menciptakan manusia di dunia ini dengan potensinya masing-masing dan tidak akan pernah sama, sekalipun anak kembar identik. Secara fitrah, anak-anak sejak dilahirkan memiliki potensi dan bakatnya masing-masing. Artinya, sampai kapanpun setiap anak tidak akan pernah sama potensi dan kemampuannya. Bakat dan potensi ini akan berkembang dengan cepat atau lambat sesuai dengan stimulasi dan pola pengasuhan yang diberikan kepada si anak sejak dini bahkan sejak dalam kandungan. Berarti orang tualah pihak pertama yang menentukan cepat lambatnya berkembangnya potensi sang anak.

Setelah kita memahami hal ini, seharusnya kita akan bijaksana dalam melihat hasil yang diberikan oleh setiap anak-anak kita. Kita lebih menghargai mereka sebagai insan yang memiliki harga diri, kelebihan-kelebihan dan potensi yang siap dikembangkan. Kita tidak akan berfokus pada hasil yang diberikan anak-anak kita, tapi kita akan lebih menghargai proses yang dilalui oleh setiap anak-anak kita. Sekecil apapun perubahan yang dinampakkan oleh anak-anak kita, sudah sepantasnya kita hargai dan kita berikan apresiasi. Memang, kadangkala rumput tetangga lebih hijau dari rumput rumah kita sendiri, tapi kita harus ingat bahwa dengan kita membanding-bandingkan anak kita dengan anak orang lain, hal itu akan lebih melukai perasaan dan menjatuhkan harga diri bahkan mematikan potensi mereka. Oleh karena itu, mari kita berfokus pada kelebihan-kelebihan yang dimiliki anak-anak kita bukan pada kekurangan atau kelemahan mereka. Mari kita jadikan kelemahan dan kekurangan yang dimiliki anak-anak kita menjadi tantangan dan peluang untuk kesuksesan mereka.

Kesuksesan anak-anak kita tidak diukur dari angka-angka dan nilai-nilai rapot yang kita terima setiap akhir semester dan hasil ulangan setiap bulan. Tapi bagaimana proses anak-anak kita dalam mendapatkan nilai-nilai tersebut harus lebih kita hargai. Dan bagi sebagian orang tua, nilai-nilai tersebut menjadi tolok ukur keberhasilan atau kesuksesan sang anak. Tidak jarang orang tua marah besar ketika nilai atau capaian ulangan anaknya tidak sesuai dengan harapan, bahkan mengalami penurunan prestasi. Padahal, proses belajar anak-anak tidak hanya dibatasi oleh gedung-gedung sekolah dan materi-materi pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah. Akan tetapi, proses belajar anak tak berbatas, proses belajar sesungguhnya adalah kehidupan mereka sendiri yang mereka jalani setiap hari mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi dan semua permasalahan-permasalahan hidup yang mereka hadapi setiap hari. Bagaimana mereka berinteraksi dengan diri mereka sendiri dan orang-orang atau lingkungan yang ada di sekitar mereka.

Kesuksesan anak-anak kita sesungguhnya adalah ketika mereka mampu mengaplikasikan semua teori atau materi pelajaran yang didapat dari orang-orang di sekitar mareka baik di sekolah, keluarga dan lingkungan, kemampuan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi, kemampuan dalam memberikan reaksi positif terahadap semua hal yang mereka temui dan kemampuan dalam menampilkan karakter-karakter positif dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini tentunya sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri, sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab

Merujuk pada tujuan pendidikan nasional di atas, tidak kita temukan redaksi yang menekankan pada target nilai mata pelajaran yang harus dicapai. Pendidikan nasional menghendaki terbentuknya karakter-karakter positif dan keterampilan hidup soft skill dalam diri setiap peserta didik atau anak-anak kita. Karakter atau soft skill ini tidak bisa ditumbuhkan hanya dengan pemberian konsep materi dan diujikan sebatas kognitif sebagaimana mata pelajaran umum, tapi butuh pembiasaan dan keteladanan dari orang-orang yang ada di sekitar mereka. Dan karakter atau soft skill tidak bisa ditumbuhkan dengan instan/cepat, melainkan dengan proses yang panjang dan pembiasaan secara terus menerus agar menjadi kebiasaan dan budaya habituasi.

Biasanya nilai sikap dinampakkan di rapot dengan nilai Baik, Cukup atau Amat Baik. Tapi nilai tersebut tidak bisa dijadikan kesimpulan akhir tentang sikap anak-anak kita. Karena karakter atau sikap tidak bisa kita berikan hanya sebatas teori atau konsep, tapi butuh teladan/contoh, butuh pembiasaan dan sistem yang memaksa agar peserta didik menjadi terbiasa, setelah terbiasa menjadi budaya kemudian menjadi karakter dan pada akhirnya menjadi sebuah kepribadian. Proses menanamkan karakter atau soft skill tidak bisa dilakukan oleh sekolah saja tapi bersama-sama dengan orang tua dan keluarga di rumah. Karena tugas besar ini adalah tugas kita bersama.

Program sekolah harus sama dengan program orang tua di rumah. Sehingga anak-anak tidak memiliki pemahaman yang berbeda. Sekolah dan rumah merupakan miniatur masyarakat yang sesungguhnya sebelum mereka terjun langsung didalamnya. Karakter dan soft skill yang dicanangkan dalam tujuan pendidikan nasional merupakan bekal yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik agar mereka mampu bersaing dan mampu memimpin di masa depan. Oleh karena itu, fokus kita semua, orang tua dan sekolah adalah menanamkan karakter dan soft skill pada diri setiap peserta didik (anak-anak kita) melalui rangkaian kurikulum dan program yang dibuat.

Sebagai contoh, kita mau menanamkan karakter tanggung jawab. Maka sejak dini anak harus dikenalkan dan dibiasakan dengan tugas-tugas tanggung jawab baik di rumah maupun di sekolah. Anak akan berproses sepanjang waktu. Mungkin dalam prosesnya, anak-anak kita pernah sukses atau gagal dalam menjalankan tugas tanggung jawab ini. Dalam hal ini tugas kita bukan menilai tapi membantu memberikan evaluasi dan motivasi sehingga anak tetap tampil percaya diri. Hasil nilai bisa kita ulang (remidi) tapi proses akan memberikan sebuah pengalaman berharga yang tidak bisa kita ulangi dan akan menjadi sebuah kenangan tersendiri yang tidak terlupakan. Kita menjalani hidup dengan banyak mengambil hikmah dari setiap peristiwa dan dari kisah para pendahulu kita. Demikian juga anak-anak, mereka akan belajar dari setiap proses yang mereka lalui baik yang menyenangkan atau tidak, mereka akan belajar dari pengalaman yang dimiliki orang tua, guru, teman dan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Karena pengalaman adalah guru terbaik yang akan membantu kita menjalani kehidupan agar lebih baik setiap saat.

Oleh karena itu, menghargai sebuah proses menjadi hal yang sangat penting dan yang utama. Kita harus fahami bahwa anak-anak kita adalah insan yang masih dalam tahap tumbuh dan berkembang. Mereka dilahirkan ke dunia dengan segudang potensi yang siap dilejitkan. Mereka membutuhkan pendamping atau lingkungan yang mampu memberikan dukungan dan motivasi kepada mereka untuk bisa berproses dan sukses dalam menjalani kehidupan ini. Support sistem ini adalah orang tua, keluarga, guru, teman, masyarakat dan lingkungan sekitar. Mari kita hargai setiap perubahan dan kebaikan yang anak-anak kita tampakkan sekecil apapun. Mari kita berfokus pada kelebihan bukan pada kekurangan anak-anak kita. Semoga dengan kita menghargai proses yang dilewati oleh setiap anak-anak kita, mereka akan tampil menjadi pribadi-pribadi yang percaya diri, tangguh, optimis, mandiri, memiliki integritas dan berprestasi sebagai bekal sukses untuk kehidupan mereka di masa yang akan datang.

LEAVE REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked *